Antara Move On & Pura-pura Move On #eaaa

Maaf aja kalo posting-an ane disini nyampah doang. Ye gapapa kali, ini kan site ane. Judulnye juga bagi-bagi cerita. Entah itu fiksi, nyata, curcolan, sampe tulisan nasi campur juga dipamerin–meski nggak layak pamer. Curcolan orang bukan berarti nggak guna sama sekali, nak. Bisa saja ente-ente sekalian bisa narik kesimpulan atau pelajaran dari curcolan remaja-tua (nggak layak disebut remaja lagi kayaknya. yah.. namanya juga jiwa muda) seperti ane–meski kebanyakan nggak ada kesimpulan atau pelajaran sama sekali.

You could write a book on how to ruin someone’s perfect day. -Taylor Swift

I don’t know why, but I do love that words. Entah kenapa setiap kali dengerin lagunya Swift yang Tell Me Why itu jleb banget. Ngerasa lagu itu dinyanyiin sama suara hati ane juga. Padahal arti lagu ini aja ane nggak ngerti-ngerti bener. Cuman seneng aja. Kan, seneng sama sesuatu nggak perlu alesan yang spesifik. Seperti cintaku padamuuuu~

Okay, stop it! No more love for that jerk!

Hampir setahun move on tapi belum juga bisa move on se-move on move on-nya. Lebih dari satahun ada nggak, ye? Kagak tahu. Lupa. Yang jelas udah lama banget kayaknya. Oh, no! Mengapa waktu berjalan seperti siput saat engkau tidak ada di sampingku?

Yup! I love him. Untungnya not as much as jaman baheula aku cinta kepadanya. Uh, it’s an old story, you know? Hobi banget mewek. Nggak ngobrol sehari rasanya udah kayak seabad. Nggak ngepo dia rasanya kok ketek gatel banget. Nggak ngelus kepala dia berasa tangan diserang virus cacar lokal (pernah nyentuh dia aja kagak). Iya, memang begitu, aku tahu aku lebay.

Ehm, curhat dikit gapap kali mehehe.

Panggil saja dia ‘Charlie’ (aduduh, maaf deh bawa-bawa nama Charlie-nya Stephen Chbosky, habisnya lagi jatuh cinta banget sama si Charlie unyu ini). Iya, anggap aja Charlie. Jangan samain dari sisi sana dan sisi sini, karena dia sama sekali nggak mirip si Charlie-nya Stephen Chbosky. Kesalahan pilihan nama memang. Tapi cuman nama itu yang paling normal terbersit pas mikirin nama samaran. Mau dipanggil kampret, kok kayaknya kejem banget ya. Mau dipanggil cepirit, jigong, atau upil, terkesan jorok banget, dia kan nggak gituuuu. Di tambah lagi aku shaum, takutnya dosa kalau manggil dia pakai panggilan aneh tadi. Jadi, I call you Charlie aja ya. 🙂 *nb: masih bagusan Charlie asli daripada elu, woy!*

this was before that ‘siluman’ picks you up

Kalian pada percaya nggak sih kita tuh dekeeeeeet banget? Dulu. Keharmonisan itu tiba-tiba hancur dikarenakan pihak ketiga. Entah berwujud manusia asli atau siluman, pokoknya oh so kamfret bener. Jadwal kita ngobrol pun berkurang. Biasanya pagi, siang, sore, malem, subuh, lohor, ashar, maghrib, isya, tahajjud, teraweh, witir, ahelah lebaynya kurang lebay dah! Pokonya frekuensi ngobrol berkurang.

Jadi, karena nggak kuat nahan beol perasaan, yah.. jebol deh. Tahu maksudnya, kan? Yang nggak ngerti sini dikasih tahu. Mumpung aku lagi baik dan nggak ngatai kalian bego. So,

I said.. “Baby I love you, love you, love you so much!”

Nekat? BANGET!

Dan sejak itu, hubungan kita bukannya membaik malah tambah parah.

Dia kabur. Rumahnya dulu di Singapura tapi demi jauh-jauh dari virus buku, dia kabur ke antartika sana. Entah ngapain. Nyari pinguin, kali. Hilang tanpa jejak! And I start singing.. “Kau diam tanpa kata, kau seolah jijik padaku.. unyu, unyu..” Iyee, aku lebih tahu dari kalian kalau liriknya asbun banget.

Kembali ke masa sekarang saat tahun sudah berganti, bulan terus berputar pada porosnya, dan musim yang nggak jelas juga turut berganti.. he said hello just now. BUKAN! Bukan beberapa detik yang lalu. Bulan kemarin pokoknya. Trus, aku langsung nyanyi begini sepanjang hari.. “Who do you think you are? Running round leaving scars. Collecting a jar of hearts. And tearing love apart. You’re gonna catch a cold from the ice inside your soul. So don’t come back for me. DON’T COME BACK AT ALL!”

Tahu sesuatu? Lagu tadi bener-bener simbol ke-ge-er-an dari seorang aku. Haduh, mbok yo jangan suka ke-ge-er-an toh, ndok. Nggak bagus!

Yup! Jangan terlalu percaya diri sobat. Nganggep si dia feels the same way like we do. It’s so wrong! Because I was the victim from this kind of high-self-confidence. Ujung-ujungnya sakit jiwa. Syukur-syukur dia juga seneng sama kita, lah kalo kagak? Tertohok lah kau!

Kebaikan seseorang nggak selalu berarti kebaikan yang termaksud di benak kita. Adanya sosok seseorang di saat kita butuh nggak selalu berarti dia memang ada untuk kita. Banyak pengertian untuk satu kata saja. Pengertian yang berbeda-beda tentunya. Nah, sebelum terlanjur ngebet banget sama inceran kalian, teliti dulu dengan lebih baik. Dan satu lagi, selalu belajar dari masa lalu, bukan tertahan di masa lalu.

Nah, biar kalian nggak bosan, aku sudah menyuguhkan sebuah lagu yang sudah kalian kenal. Tell Me Why-nya mbak Swift. Sebelum mendengarkan, mari aku sebutkan aturan mainnya dulu. Sebelum mendengarkan, pastikan tangan Anda tidak menyentuh layar atau keyboard. Jika Anda memakai headset, lepas saja dulu, takutnya ada kecoa muncul dari headset itu, hiyyyy. Dan yang terakhir, siapkan ember atau plastik hitam khusus sampah kalau-kalau Anda bernita untuk muntah dan membuang pc Anda. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat menikmati. Semoga Anda selamat di perjalanan yang panjang ini. Dan semoga mendengarkan rekaman ini tidak membuat puasa Anda batal (lu lagi puasa kan? Ya jangan ngatain gua! Lu lagi puasa, lho!).

 if the widget is broken, come here >> link sesat.

with love,

heart-ambassador (amatir)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s